Blog Tetangga

http://durabbilityoffline-lvl.blogspot.com/

Kamis, 15 September 2022

Sebuah kenang-kenangan dari seorang Rekan - Juni 2016

 Day mengomentari postingan 3 Juni 2021.

Wakakakak kntl
6 tahun yang lalu
"Lucid Dream : Hearth of Dragon Land"
Author : Hari
Genre: Serius gue gak ngerti :'v
\Prologue (Maybe)
PRANK!
Cermin di kamar mandinya pecah menjadi serpihan-serpihan tajam ketika tangannya menghantam tepat di cermin tersebut. Perlahan matanya terpejam, dan tak lama kemudian terlihat bening kristal itu keluar dari kedua sudut matanya.
Daren, nama akrab dari remaja yang baru saja menginjak usia 17 tahun ini terlihat sangat frustasi ketika ingatan masa lalu yang sudah sangat ingin ia lupakan itu selalu hadir dalam kepalanya.
"Daren apa kau baik-baik saja?" Terdengar suara seorang pria bertanya dari balik pintu kamarnya. Dari nada suaranya terdengar pria tersebut sangat khawatir dengan keadaan Daren yang saat ini masih berdiri di depan cermin. "Hey Daren, kau baik-baik saja kan? Jawablah!" Kembali terdengar suara tersebut yang kali ini di iringi dengan suara ketukan di pintu kamarnya.
Pintu terbuka secara perlahan menampilkan sosok seorang pria muda berparas tampan di hadapannya. Daren, terlihat dia menundukan kepalanya tak berani menatap pria yang saat ini tengah menatapnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, tadi aku mendengar suara barang pecah. Apa kau memecahkan kembali cermin di kamar mandi mu?" Tanya pria tersebut dengan tenang yang diikuti dengan senyuman di bibirnya.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan, lidahnya terlalu kelu untuk berkata-kata.
"Hahaha sudahlah, kau tidur saja di kamar kakak! Biar kakak yang membereskan kamar mu." Ucap Pria tersebut sambil menepuk pelan bahu kanan adiknya.
"Kak, apakah-" Daren menggantungkan kata-katanya yang membuat sang kakakengerutkan keningnya.
"Ya?"
"Apakah ini yang namanya hidup?" Tanya Daren sambil mendongkakkan kepalanya menatap pria itu yang juga menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Apakah hidup itu memang menyakitkan?" Lanjut Daren bertanya yang membuat sang kakak tertawa.
"Hey aku bertanya padamu dengan serius kak, kenapa kau malah tertawa?" Kata Daren dengan kesal. Terlihat kakaknya berhenti tertawa yang kemudian berganti dengan ekspresi serius di wajahnya.
"Kau terlalu cengeng untuk seorang pria, lebih baik kau pergi tidur dan cari jawaban mu sendiri dalam mimpi mu!" Kata-kata tersebut membuktikan kalau sang kakak tidak ingin menjawab pertanyaan adiknya. Entah itu karena dia tidak tahu atau mungkin karena dia ingin adiknya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan orang lain. Pria itu berjalan memasuki kamar Daren yang saat ini sudah seperti pesawat yang jatuh dari langit, amat berantakan.
"Kau tahu? Bila kau tak menemukan jawaban dari pertanyaan mu itu secepatnya, maka kau akan... Gila." Kalimat terakhir dari sang kakak membuat Daren sangat terkejut, ia tak mengerti kenapa kakaknya bisa berkata seperti itu. Padahal yang selama ini dia tahu, kakaknya adalah seseorang yang sangat konyol. Yang menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan sebuah senyuman.
"Tapi kali ini dia sangat berbeda..." Batinnya sambil menatap kosong kearah pria itu yang tengah merapikan kamarnya.
"Cepatlah tidur, besok kau harus sekolah!"
*** Daren's POV ***
Pria itu, lebih tepatnya kakak ku. Kenapa dia selalu tak bisa mengerti dengan masalah adiknya sendiri, aku pikir bila seseorang mempunyai seorang kakak. Dan ketika ia sedang dalam masalah, maka seseorang yang berperan sebagai kakaknya akan membantu menyelesaikan masalahnya.
Tapi itu sangat jauh dari apa yang aku harapkan, kakak ku berbeda.
.
Ku buka pintu kamar itu secara perlahan, dan ku langkahkan kaki ku masuk kedalam. Ku akui kamar ini memang rapi, jauh berbeda dari kamar ku yang sangat berantakan.
Aku tak tahu bagaimana benda itu bisa hidup, tapi aku benar-benar sangat marah ketika benda tersebut melantunkan sebuah lagu.
Cinta... kepada hidup
Memberikan... senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di Dunia... ( Laskar Pelangi - Nidji )
Kembali kulangkah kan kaki ku mendekati benda itu, sorot mataku tajam menatap benda kecil yang kini ada di hadapan ku. Tanganku sudah terkepal kuat dan siap meremukkan benda kecil itu. Tapi...
BHUK
Kepalaku terasa sangat berat dan pandangan ku perlahan menjadi gelap ketika kurasakan sebuah pukulan mendarat di kepala bagian belakang ku. Badan ku kehilangan keseimbangannya bersamaan dengan kesadaran ku yang juga mulai mrnghilang.
Brukh
.
"Kau baik-baik saja?" Suara yang begitu lembut itu terdengar di telinga ku ketika aku tersadar dari mimpi buruk yang baru saja ku alami, seseorang memukul kepala ku dari belakang hingga membuat kepalaku pusing. Eh mimpi buruk? Tunggu itu bukan mimpi, itu kenyataan dan...
"Dimana aku?" Aku terkejut ketika kudapati diriku berada di dalam sebuah ruangan yang tak pernah aku kenali. Bagaimana aku bisa ada disini? Padahal beberapa menit lalu aku berada di kamar kakak ku.
"Ruang perawatan." Suara lembut itu kembali terdengar, seorang wanita cantik berambut perak panjang dengan pakaian aneh serba putih yang ia kenakan tengah berdiri di samping tempat tidurku saat ini. "Aku menemukan mu dalam keadaan tak sadarkan diri di tepi pantai, jadi aku membawa mu ke sini." Lanjutnya menjelaskan sambil menunjukan senyum manis di bibir tipisnya.
"Daren Lanchaster." Aku terkejut mendengarnya, dari mana dia tahu namaku padahal aku tak mengenalnya sama sekali. Bahkan baru kali ini kami bertemu.
"Selamat datang di kehidupan baru, Dunia Mimpi."
***×***
Hey hey apa coretan tak berguna ini perlu untuk dilanjutkan?
Minta kripik ama sarang-nya :3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar