Album Big Apple.
Aleister Thompson menambahkan foto baru.
Gemerlap dari tabung dengan gas bercahaya yang tertata rapi digedung-gedung tinggi, menjadi salah satu sumber cahaya yang menyuluh pusat kota dengan julukan 𝘉𝘪𝘨 𝘈𝘱𝘱𝘭𝘦, Hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu-lalang disana terhantar jelas oleh sekujur panca indra, tiap orang sibuk dengan urusan mereka sendiri, pulang bekerja, bermain bersama rekan-rekannya, ada juga yang hanya sekadar berswafoto disana.
"Merah.... Merah... Merah!!!"
Nampak seorang pria tengah sibuk bahkan asyik sendiri dengan pisaunya, yang ia tusukan berkali-kali pada abdomen seorang wanita yang nampak tak bernyawa. Cairan merah lengket terus menerus mengalir dari tiap sayatan dan luka tusuk yang diterima oleh wanita malang itu tanpa henti.
Jasad sang dara itu nampak benar-benar rusak, lidahnya menjulur keluar terbagi kedua namun tersimpul bagaikan ikatan tali sepatu.
Pria dengan rambut hitam yang tidak tertata secara rapi itu, beranjak dari tubuh wanita yang sudah rusak itu, netra langit malamnya menusuk tajam kearah kejauhan, dimana ia mendapati kilapan merah biru yang timbul diujung gang dimana ia berdiri.
"Mengganggu..." Gusar pria itu.
Pria gila itu kini melucuti kemeja putihnya yang bersimbah darah sang wanita ditambah beberapa korban lainnya, lalu berjalan telanjang dada ditengah kemalaman, berlawanan arah dari datangnya anggota kepolisian yang seperti biasa terlambat untuk tiba di tempat kejadian.
"Sialan... Ini ulah si pengait lidah itu lagi?" Tanya salah seorang polisi dengan kepala plontos disana pada kolega yang kini berdiri disampingnya.
"M-Mungkin..? Habisnya wanita ini memiliki ciri khas kematian yang sama, Opsir Ted." Jawab rekannya gemetar.
Dilihat dari tanda pangkatnya yang terpampang pada saku yang berada didada para petugas, rupanya Si Polisi Botak itu merupakan atasan atau mungkin mentor dari Si Rookie yang kini berpatroli dengannya.
"Kalau begitu... Berarti!—"
Polisi botak yang dipanggil Ted itu meraih sarung pistol kulit yang kini menggantung pada ikat pinggang miliknya.
"Berba—"
Belum sempat ia meraih pistol juga memperingati rekannya, sebuah belati dengan gagang yang terbuat dari kayu belati dengan ukiran romawi, kini melesat amat cepat kearah kepalanya, menancap tepat pada tengkorak belakang Petugas Ted. Membuat ia tumbang kedepan, tubuhnya menimpa jasad wanita yang sedari tadi sudah tidak bergerak.
Rekannya yang panik, berupaya untuk melarikan diri. Namun, rupanya hal itu sudah telat. Kala ia menyadari, sebuah pisau dapur dengan gagang yang sudah bersimbah darah, kini tertancap pada area ulu hati Si Rookie, membuatnya tumbang disaat yang bersamaan.
"Lihatlah sekitarmu... Sebelum terlambat."
Pria dengan rambut acak-acakan itu meraih kerah kemeja hitamnya, sedikit mengusap kan darah sang polisi yang bercucuran keluar dari luka pada ulu hatinya disana.
"Kalian..."
Pria itu kini berjalan pergi dari gang itu, hingga akhirnya hanya menyisakan siluet hitam sebelum akhirnya lenyap pada sebuah belokan yang ada didalam gang tersebut.
11
Suka
Komentari
